Sholat Idul Adha di Kota Taliwang Berjalan Khidmat

 

 

Bupati Gelorakan Gotong Royong, Khatib Berpesan Jaga Hablumminallah dan Hablumminannas

 

TALIWANG—Pelaksanaan sholat Idul Adha atau Idul Qurban 1438 Hijriyah bertepatan dengan 1 Septembr 2017 di Kota Taliwang berjalan khidmat.

 

Seperti biasanya, sholat Idul Fitri maupun Idul Ahda di Kota Taliwang dipusatkan di lapangan depan masjid Agung Darussalam. Ribuan masyarakat Kota Taliwang berbondong-bondong menuju lokasi sholat yang berada di dalam komplek pemerintahan KSB ini. Tua, muda hingga anak-anak. Ada yang mengendarai mobil, sepeda motor, sepeda kayuh hingga berjalan kaki. Karena tidak tertampung di lapangan, sebagian orang pun membuat shaf di taman sebelah kanan dan kiri lapangan masjid Agung bahkan hingga jalan raya.

 

Yang menjadi imam pada Sholat Idul Adha tahun ini adalah H. Rusdi A. Karim. H. Rusdi merupakan imam besar Masjid Darussalam Sumbawa Barat. Sementara bertindak sebagai khatib adalah Dr. Muchtar Lutfi, S.H., M,H, Direktur Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta.

 

Sebelum sholat Idul Adha, Panitia Hari Besar Islam (PHBI) KSB mengumumkan beberapa hal. Diantaranya, jumlah hewan qurban yang terkumpul dari Gerakan Masyarakat KSB Berkurban di KSB pada Idul Adha 1438 H/2017  ini adalah sebanyak 439 ekor. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari tahun 2016 lalu sebanyak 161 ekor, baik sapi maupun kambing. Kemudian pengumuman juara pawai Takbir. Untuk tingkat sekolah, juara pertama diraih MTsN 1 Taliwang, juara dua SMPN 6 Taliwang dan juara tiga diraih SMPN 1 Taliwang. Sementara kategori umum, juara pertama diraih masjid Al Muttakin Kelurahan Menala, juara dua diraih kontingen Kelurahan Dalam. Sementara juara ketiga diraih, kontingan jemaah masjid Darussalam Kelurahan Kuang. 

 

Bupati Sumbawa Barat, Dr. Ir. H. W Musyafirin, M.M memberikan sambutannya. Dalam sambutannya, Bupati mengajak masyarakat untuk menarik nilai-nilai berqurban yang disyariatkan Nabi Ibrahim AS. Berqurban mengandung spirit yang merupakan peradaban dan simbol perjuangan. Nabi Ibrahim AS adalah simbol kepala keluarga yang taat beribadah, penyabar dan pekerja keras. Siti Hajar adalah ibu rumah tangga, tokoh perempuan ulet, dan pantang menyerah. Sementara Ismail adalah anak yang ikhlas, berbakti kepada ibu dan bapaknya serta taat kepada Allah SWT. ‘’Kita jadikan simbol keluarga Nabi Ibrahim untuk kita teladani dalam membina keluarga yang kuat guna membangun KSB yang hebat,” imbuh Bupati.

 

Bupati juga menggelorakan masyarakat KSB berkurban dan bergotong royong. gerakan masyarakat KSB berkurban dicanangkan dalam forum yasinan Pemerintah KSB tanggal 17 agustus 2017. Gerakan ini lahir karena antusiasme masyarakat yang begitu tinggi meminta hewan qurban. Dari forum yasinan tersebut, kemudian tercetuslah ide gerakan gotong royong berkurban yakni, menggerakkan masyarakat secara mandiri, bergotong royong di lingkungannya mengumpulkan rizkinya secara bersama-sama untuk membeli hewan kurban. Gerakan ini dilahirkan agar masyarakat tidak terus menerus meminta hewan kurban, karena sejatinya mental masyarakat KSB bukanlah mental meminta-minta. Semangat inilah yang harus dibangun, bukan hanya dalam Idul Qurban, tetapi urgensinya dalam kehidupan ber-KSB sehari-hari.

 

Sementara itu, khatib Dr. Muchtar Lutfi, S.H., M.H menyampaikan dua hubungan yang harus dijaga dalam kehidupan. Yakni hubungan secara vertikal atau hubungan dengan sang pencipta (hablumminallah) dan hubungan horizonal atau hubungan dengan manusia dan makluk lainnya di bumi (hablumminannas).

 

Dijelaskannya, Hablumminallah dimanifestasikan dengan melaksanakan ibadah khusus yang diperintahkan Allah, seperti sholat, puasa, zakat haji dan ibdah untuk mengabdikan diri kepada Allah lainnya. Dalam melaksanakannya pun harus sesuai kaidah, yakni Al Qurán dan Hadits serta Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dr. Muchtar pun mengutip Qurán Surat Al-Baqarah Ayat 2 artinya, Al-Qurán adalah petunjuk yang tidak ada keraguan di dalamnya dan merupakan petunjuk bagi orang yang bertakwa. ‘’Harus sesuai spektrum atau aturan yang ditetapkan. Yang sesuai Al-Quran dan petunjuk Rasul. Tidak boleh menyimpang,” katanya.

 

Dalam hal hubungan antar manusia dan makhluk lainnya. Allah SWT juga telah mengaturnya. Diturunkannya nabi dan rasul adalah bertujuan mengajak manusia bukan hanya untuk memperbaiki Aqidah untuk beribadah kepada Allah. Namun juga menjaga hubungan dengan manusia dan makhluk lainnya.

 

Menjalankan hubungan yang baik dengan manusia dan makhluk lainnya telah dicontohkan oleh Rasullallah Nabi Muhammad SAW yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Bagaimana Rasul mengajarkan berhubungan baik bukan hanya dengan sesama muslim. Namun juga non muslim. Bukan hanya saat damai. Namun bahkan juga dalam kondisi perang. Bagaimana, untuk tidak merusak tempat ibadah agama lain, tidak mencaci maki tuhan kaum kafir dan sebagainya.

 

Tidak sampai di situ. Rasul juga mengajarkan bagaimana berperilaku kepada hewan. Seperti contoh dalam menyembelih hewan, maka penyembelihan hewan yang praktikkan dalam islam merupakan penyembelihan hewan yang terbaik dibanding penyembelihan yang dilakukan orang non muslim.(Humas)