Pengembangan Bandara Sekongkang Tiga Alternatif

 

 

TALIWANG—Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat melakukan Studi Rencana induk bandar udara/Bandara (RIB) guna pengembangan Bandar Sekongkang.

 

Untuk melakukan studi RIB ini, Pemerintah KSB menunjuk PT. Amethys Utama sebagai konsultan. Dalam acara pemaparan antara dan pra akhir RIB dari PT. Amethys Utama ini, Wakil Bupati Sumbawa Barat, Fud Syaifuddin, S.T mengatakan, pembangunan bandara ini menjadi hal yang sangat rumit. Jika dibanding pembangunan infrastruktur lain di bidang ke-PU-an (Pekerjaan Umum). Kemudian penanganan fakir miskin, kementerian terkait sangat mendukung.

 

Namun, pembangunan Bandara Sekongkang ini masih banyak kendala. Meski Pemerintah Daerah meminta dukungan ke Kementerian Perhubungan sekalipun. Kerjasama dengan pihak swasta pun banyak yang urung berjalan. ‘’Saya minta sama pak Malik, studi dilakukan sesuai dengan yang dilihat, beri kami alternatif pengembangan bandara ini. Jika memang tidak bisa dikembangkan, katakan tidak bisa, agar semua clear, agar tidak dilanjutkan atau kita pindahkan karena ini membutuhkan anggaran yang sangat besar,” kata Wakil Bupati di Aula Kantor Dinas Perhubungan, Kamis pagi (23/11/2017).

 

Kepala Dinas Perhubungan KSB, Ir. H. Muslimin, M.Si mengatakan, Bandara Sekongkang memiliki panjang runway 750 meter dengan lebar 22 meter. Kondisi runway ini mampu melayani pesawat yang memiliki seat (tempat duduk). Namun kendala beroperasionalnya bandara ini karena adanya bukit di sebelah timur dan faktor lainnya. ‘’Untuk itu masterplan/RIB harus dilaksanakan guna menemukan langkah atau alternatif apa untuk pengembangan/pengoperasionalan Bandara Sekongkang,” kata Ir. Muslimin.

 

Malik dari PT. Amethys Utama memaparkan, RIB merupakan payung hukum pengembangan bandara. Namun dari kajian di lapangan, Bandar Sekongkang belum memiliki fasilitas penunjang. Kondisi exsisting (yang ada) Bandara saat ini hanya runway dan bangunan terminal. Fasilitas yang harus dipenuhi dan ideal ada di bandara adalah pelayanan Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK), menara navigasi dan komunikasi, keperawatan dan lainnya. ‘’Di sebelah timur bandara (Jalan, Red) kami menemukan tiang listrik, tentu ini harus dihilangkan karena sekitaran bandara bebas dari bangunan, tower, tiang-tiang dan yang menggangu sistem penerbangan,” kata Malik.

 

Terkait prakiraan potensi penumpang, Malik mengutarakan potensi penumpang datang dari karyawan PT. AMNT sebanyak 3.184 orang, pegawai negeri 332 orang, TNI-Polri 111 orang, Pengusaha non PT. AMNT 338 orang dan lainnya. Potensi penumpang optmis di tahun 2018 sebanyak 15.143 orang dan tahun 2033 sebanyak 19.723 orang. Sementara pergerakan pesawat setiap hari sebanyak 4 kali penerbangan dan penerbangan dalam satu tahun sebanyak 624 penerbangan dengan rute terjauh diasumsikan Denpasar, Bali.

 

Malik pun mengungkapkan tiga alternatif pengembangan Bandara Sekongkang. Alternatif pertama, mengoptimalisasikan bandara  yang saat ini ada, dengan memenuhi fasilitas penunjang sesuai aturan kebandaraan dengan sokongan anggaran Rp. 56 Milyar. ‘’Nilai itu nilai maksimal dengan fasilitas pendukung yang lengkap, tapi tidak mesti lengkap sehingga anggarannya tidak sampai nilai itu,” jelasnya.

 

Alternatif kedua adalah memperpanjang runway dengan dua pilihan mekanisme, pertama memangkas bukti yang ada di timur ujung bandara. Kedua menguruk laut di sebelah barat bandara sehingga panjang runway mencapai 1,3 sampai 1,4 km dengan estimasi anggaran Rp. 230 Milyar. Sehingga ke depan, bandara ini siap melayani jenis pesawat yang lebih besar. Namun operasional tetap satu arah karena angin di Bandara ini didominasi satu arah saja.

 

 

Alternatif ketiga adalah mengubah arah runway (saat ini barat-timur, Red) menjadi melintang selatan-utara. Arah selatan-utara ini dipilih karena angin mendominasi arah ini dan mendukung sistem penerbangan. Namun, lagi-lagi opstacle (hambatannya) penerbangan hanya satu arah. ‘’Kami berdialog dengan teman-teman maskapai, bagi mereka yang terpenting adalah penumpang, ini artinya optimaliasi existing bandara saat ini lebih baik. Jika kemudian nantinya banyak penumpang dan mencapai demand yang tinggi maka alternatif lainnya bisa dilaksanakan,” jelas Malik.(Humas)