BK Mineral Masuk Arbitrase Rugikan Rl

Jurnas, Jakarta, hal 28
Ketua asosiasi tembaga emas Indonesia, Natsir Mansyur mengatakan selama ini perusahaan pemegang KK memberi konntribusi besar terhadap pendapatan negara.
Pemerintah merupakan pihak yang memperoleh porsi nilai tambang dan manfaat terbesar sekitar 67% melalui pajak, royalty dan pendapatan non pajak. Sementara 33% keuntungan sisanya disalurkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Beberapa perusahaan yang sudah melakukan divestasi saham seperti PTNNT, dividen tersebut dibagikan kepada pemegang saham Indonesia.
“Apabila ekspor konsentrat tembaga pemegang KK harus di stop karena masalah BK yang diadukan ke arbitrase internasional, kerugian paling besar justru dialami pemerintah Indonesia dan kepentingan nasional. Karena selama ini pemerintah dan kepentingan nasional yang menerima manfaat terbesar.” Katanya di Jakarta Senin (10/2).
Presdir PTNNT Martiono Hadianto mengatakan PTNNT sangat mendukung kebijakan UU minerba.
Selain KK menjamin hak PTNNT untuk mengekspor konsentrat tembaga, PTNNT juga melakukan negosiasi dan menandatangani perjanjian pasokan konsentrat dengan dua perusahaan Indonesia.
“Keberlangsungan operasi tambang (Batu Hijau) adalah untuk kepentingan pemerintah dan stakeholder lainnya, termasuk masyarakat lokal, karyawan dan perusahaan itu sendiri,” katanya. (Luther Kembaren)
(Berita yang sama terbit di Rakyat Merdeka (asi), Majalahtambang (Egenius Soda))