Islam dalam Perayaan, Profan dan [atau] Sakral?

Manusia, dalam sejarahnya, telah hidup bersama dengan ragam simbol dan mitos. Dua hal ini tak terkira jumlahnya, diwarisi dan diperbarui lagi sebagai suatu proses penciptaan. Pada akhirnya, manusia dibatasi oleh tanda-tanda, simbol, serta mitos tersebut. Tak terkecuali yang dialami oleh masyarakat beragama di dunia ini, bahkan sebelum modernisme menyeruak.

Agama-agama di dunia, termasuk Islam, dalam kehidupan masyarakat hadir dengan sederet ritual, atau sebuah proses penyembahan kepada Yang Kuasa. Salah satunya adalah ritual penyambutan hari raya keagamaannya. Sayangnya,  orang beragama saat ini, cenderung mengalami distorsi dalam memahami agamanya. Golongan ini biasanya lebih mengutamakan bentuk artifisial daripada pemaknaan yang dalam. Orang lebih bangga dengan menonjolkan ritus seperti tasbih, kitab, dsbnya, agar dia terlihat seperti orang beragam yang taat. Akan tetapi, perilakunya tak lebih taat dari yang kelihatan. Malah mungkin sebaliknya, menunjukkan diri tak lebih baik dari kaum barbar.

Disinilah kita temukan ketegangan antara idealitas merayakan dengan praktiknya dalam kehidupan. Ini yang kemudian bisa kita lihat sebagai hal yang disebut “Sakral” dan “Profan”. Untuk mendefinisikan dua hal ini, kiranya kita dapat merujuk pada pernyataan Mircea Eliade (via Daniel Pals :1996). Menurut ilmuan kelahiran Bucharest ini, apa yang kita dapati di tengah-tengah masyarakat tersebut adalah sebuah kehidupan yang berada di antara dua wilayah yang terpisah; wilayah yang sakral dan wilayah yang profan. Yang profan adalah bidang kehidupan sehari-hari, yaitu hal yang dilakukan secara acak, teratur, dan sebenarnya tidak terlalu penting. Selain itu, yang Profan merupakan tempat manusia berbuat salah. Sedangkan sakral merujuk pada sesuatu untuk menuju yang “Ilahi”.

Di Indonesia, perayaan hari besar agama pun juga dilakukan, bahkan terbilang khusus. Bagi agama-agama yang diakui negara, hari raya diekspresikan secara bebas dan terhormat. Sebelum reformasi, hanya ada 5 agama yang diakui dan mendapat tempat layak dalam ruang publik. Pada saat hari raya, aktivitas dihentikan untuk menghormati perayaan tersebut. Baru setelah Gus Dur berkuasa, dimensi minoritas mulai diperhitungkan. Gus Dur menetapkan hari raya Imlek Konghucu sebagai hari libur nasional. Selain itu, Gus Dur juga mengeluarkan kebijakan mengakui Konghucu sebagai agama yang diakui negara. Gebrakan ini menjadi suatu afirmasi terhadap kaum minoritas yang selama ini tidak diakui. Atas kebijakannya tersebut, Gus Dur, yang saat ini telah mangkat, kemudian dikagumi, dihargai, bahkan dihormati sebagai bapak pluralis yang membela kepentingan kaum minoritas.

Kebebasan yang telah dimiliki oleh umat beragama saat ini , sayangnya masih memiliki cacat. Tak bisa dimungkiri jika hari raya besar agama yang menjadi simbol atau ritual cenderung diwarnai dengan pemaknaan yang dangkal. Hal ini bisa terlihat dari cara masyarakat atau golongan yang merayakannya. Idealnya, memang hari raya apapun harus dinikmati, bisa sebagai bentuk syukur, perenungan, atau pijakan menuju hal yang lebih baik.

Ajaran Islam, pada hakikatnya memiliki nilai-nilai demokrasi secara riil, bukan sekedar teori belaka. Islam dalam kehidupan sehari-hari terutama aspek ibadah, sangat demokratis, misalnya di masjid harus melepas sepatu, atau berpuasa tidak memandang status sosial. Pada konteks ini, Islam menitikberatkan pada kualitas. Hanya saja, nilai-nilai Islam yang sedemikian luhur kadang tertutup oleh para pemeluknya. Syafii Maarif, dalam pengantarnya di bku karangan A.M. Fatwa (2001) mengatakan bahwa kehebatan, kebesaran, dan kesempurnaan (doktrin) Islam tereduksi oleh penampilan historis (sebagian) pemeluknya.

Ada dua hal yang masih menjadi masalah kaum  beragama, khususnya Islam di Indonesia. Pertama, hari raya agama, menjadi hal istimewa di hati masing-masing pemeluknya. Hingga kesehariannya pun tak bisa lepas dari merayakan. Jika tidak, maka akan menjadi suatu yang janggal, aneh, bahkan cenderung asosial. Tapi, manusia saat ini, yang sebagian besar modern, menjadikannya sebagai ajang “senang-senang”. Sayangnya, hal ini cuma bisa dinikmati oleh golongan tertentu yang memiliki kapital ekonomi.  Kedua, kelompok yang mendaku sebagai kaum beragama tersebut ternyata cenderung belum bisa lepas dari penggunjingan dan kecurigaan terhadap kelompok agama lain.

Kemegahan perayaan, terutama di Indonesia, tak bisa lepas dari yang namanya kesenjangan karena tidak meratanya kapital yang dimiliki. Disini, kita dapat melihat bahwa kapital menunjukkan kelas bahkan strata dalam menikmati hari besar agama. Kesenjangan sosial, menurut Ariel Heryanto (Idi Subandy Ibrahim (ed.) : 2000)), merupakan buah konkret dari sebuah tata masyarakat yang bersifat eksploitatif.

Kita bisa melihat fenomena sederhana di sekitar kita bahwa perayaan agama yang berlebihan justru telah menjadikan kita asosial. Saat perayaan hari besar agama, seperti Lebaran, masyarakat menjadi masyarakat konsumtif mendadak. Namun, mereka lupa, bahwa ada segolongan orang yang mungkin gigit jari dari luar toko atau mall karena tak bisa berlaku hal yang sama. Persoalan lain adalah perayaan hari besar mungkin tak terlalu berarti secara harfiah oleh para pekerja toko atau mahasiswa yang tak bisa pulang dan berkumpul bersama keluarganya. Para pekerja yang harus mburuh di toko-nya tak memiliki waktu luang untuk berlibur karena kebijakan perusahaan tempat dia bernaung mengharuskannya masuk kerja.

Perjuangan untuk meliburkan hari disaat suatu kelompok agama tertentu merayakan merupakan hak asasi yang harus dipenuhi. Namun, logika modal tak berbicara demikian dan memang menjadi dilematis. Pasalnya, di hari-hari tersebut justru pekerja harus menjalani hari yang super sibuk, karena biasanya orang berbondong-bondong datang untuk berbelanja. Tak bisa dimungkiri pula mahasiswa yang tak bisa mudik atau pulang kampung karena alasan ekonomi memaknai hari raya tidak dengan hura-hura. Mereka, bahkan, hanya membekuk di kamar 3×3-nya untuk “membunuh” waktu agar hari itu cepat berlalu. Meskipun, tak dapat dimungkiri, jika secara sakral masih bisa dinikmati, yaitu hubungan batin antara kawula dan Gusti-nya. Hal ini merupakan suatu yang tidak bisa disentuh oleh individu lain.

Sedangkan hal kedua yang juga perlu perhatian bersama adalah masih kentalnya budaya curiga atau prasangka berlebihan kepada golongan lain. Anehnya, di Indonesia, hal ini susah sekali dihindari, bahkan wujudnya tak hanya berhenti pada curiga, tapi hingga aktivitas kekerasan. Meskipun sudah lebih baik, namun kerusuhan antar-agama bahkan antar-etnis masih menjadi bahaya laten. Bahkan, di hari besar agama, yang notabene sakral, masih diwarnai dengan kerusuhan, tangisan, atau umpatan. Biasanya yang menjadi sasaran atau bulan-bulanan adalah kelompok minoritas atau etnis. Hal ini tak lepas dari masih melekatnya sebuah rezim wacana yang terwarisi. Bahwa persoalan identitas menjadi suatu hal yang krusial dalam melakukan justifikasi atau pembenaran akan kekerasan. Parahnya, identitas tersebut seolah menjadi pembenaran untuk kepentingan yang sesungguhnya, terselubung, ujung-ujungnya sebuah kesenjangan ekonomi.

Aktivitas tak terpuji ini bisa tergolong sebuah eksploitasi sosial, yang biasanya dilakukan dengan cara kategorisasi, melakukan pemilahan, pembedaan, mana yang menjadi kelompok “aku, kita”-dan-“kamu, kalian, mereka”. Ada upaya untuk me-liyan-kan yang lain demi sebuah tujuan tak berbudi. Konflik sosial yang terjadi selama beberapa tahun terakhir bisa saja kita pertanyakan kembali. Mulai dari sengketa antar-etnik, pengrusakan rumah ibadah, hingga pelarangan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Jika harus membahas mengenai masalah hak asasi manusia, berbagai agama setidaknya bicara mengenai hal itu. Dalam Islam, ada beberapa hak asasi yang tidak boleh dilanggar, antara lain hak hidup, berkeyakinan, perlindungan terhadap akal pikiran, perlindungan terhadap hak milik, dan hak berkeluarga atau memperoleh keturunan (Masdar F.Mas’udi : 2000). Membincangkan salah satu ajaran agama tertentu, bukanlah berarti terjebak pada satu pemikiran tertentu, dengan menafikkan ajaran lain. Kira-kira pembicarannya bukanlah dari sudut pandang dogmatis, tapi ajaran kritis yang membuat kita berpikir kembali.

Seorang pembaharu, yang merupakan lulusan Mc Gill University, A.Mukti Ali, menandaskan bahwa manusia beragama dewasa ini tidak bisa hidup menyendiri dalam lingkungan agama yang dipeluknya. Mereka harus bergaul dengan kelompok manusia yang memeluk agama lain (Mohammad Sabri : 1999). Dengan mengenal, maka kita tidak hanya menemukan perbedaan, tapi sekaligus memahaminya. Hal paling mengenaskan dalam suatu konflik, jika itu terjadi, maka orang dapat mengetahui kapan konflik itu mulai timbul, tetapi orang tak bisa menduga kapan konflik akan berakhir.

Manusia beragama pun diharapkan memiliki pemahaman yang sama, bahwa perlu memperkaya dirinya dengan pengetahuan akan sesuatu di luar mereka. Dengan demikian, akan ditemukan pemahaman. Mengetahui bukan berarti mematuhi, tapi setidaknya merenungi pengetahuan pada tempatnya. Jika kita sudah merasa mengetahui unutk mematuhi, maka kita akan diperbudak pengetahuan. Inilah kecenderungan manusia modern yang hendak membunuh tradisi yang sudah turun temurun. Analogi membunuh tradisi ini dapat kita gunakan untuk melihat keengganan kaum beragama untuk “mengenal” satu sama lainnya.

Untuk apa kita bergontok-gontokan atau pamer kemewahan dalam kehidupan bernuansa agama? Mungkin, inilah kekhasan manusia dari dunia yang profan. Kita cenderung terjebak pada pemikiran bahwa dalam rangka merasakan atau mencari Yang Sakral adalah menemukan lalu mendeskripsikannya. Agama tidak tergantung pada konsep ritual atau simbol artifisial, tapi dia berdiri sendiri. Sebaliknya, manusia lah yang patut memahami bahwa kita dapat mencapai Yang Sakral, dengan menjalani Yang Profan, dalam semangat kemanusiaan. Bukankah kita tidak mau menjadi muslim yang tersandera oleh belenggu mitos dan simbol belaka?[NH]

*Tulisan ini pernah dimuat di Suara NTB, tanggal 19 Juli 2014

Nurhikmah
Alumni Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta