Arti Penting Seorang Pendamping

Menyambut Kehadiran Wakil Rakyat di Telaga Bertong tanggal 19 Agustus 2014

Oleh : Nurul Jihad Ismail*
umi.ilcani @ gmail.com
 
Hari ini tanggal 19 Agustus, 2014 hari yang sangat berbahagia bagi  para calon legislatif yang telah berhasil berjuang merebut simpati rakyat, masa-masa sulit telah mereka lewati, susana komepetitif sangat kental dirasakan selama proses sosialisasi dirinya, misinya dan programnya kepada masyarakat pemilih. Tidak sedikit pula peran para istri yang ikut berjuang sekuat tenaga  menghantarkan para suami menuju kursi wakil rakyat, hingga sampailah pada hari dimana mereka dikukuhkan dan dinyatakan sah sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumbawa Barat. Pantaslah kiranya ketika kehadiran mereka pada hari ini sebagai pendamping  dirasakan sangatlah penting. Namun Apakah ini akhir dari perjuangan para istri-istri ? tentu tidak!  justru inilah awal dimulainya peran mereka sebagai pendamping wakil rakyat yang sesungguhnya.

Mencermati.keputusan KPU Sumbawa Barat ternyata  pemilih perempuan yang lebih dari separuh jumlah pemilih di kabupaten Sumbawa Barat akhirnya tidak berhasil mendudukkan wakilnya di kursi DPRD periode 2014-2019 ini, walaupun seluruh partai politik peserta pemilu sudah menempatkan perempuan dalam daftar urutan calon legislatif sesuai kuota yang diharuskan oleh UU Pemilihan Umum.

Dalam kacamata demokrasi,  hal ini sangat tidak demokratis, karena sosok perempuan menjadi tidak terwakilkan. Apalagi kalau dicermati secara kuantitas, jelas hal ini merupakan langkah mundur bagi perkembangan politik perempuan khususnya di Sumbawa Barat,  karena wakil perempuan  yang pada periode sebelumnya ada, kini menjadi tidak ada lagi. Walaupun penulis tidak hendak berbicara soal demokrasi politik, tapi hal ini lebih menyentuh kepada dunia perempuan dan seputar masalah yang menyertainya: keluarga dan anak-anak (Pusat Study Gender 2004). Pertanyaan kemudian : “ lalu kemana aspirasi perempuan  ini akan kita bawa ?

Bagi hemat penulis, keberadaan perempuan di kursi DPRD Sumbawa Barat hendaknya bisa memberi warna bagi pembangunan dan kepentingan kaum perempuan itu sendiri, tidak sekedar hadirnya sosok perempuan di tengah kaum laki-laki. Karenanya, kalau toh secara kuantitas perempuan tidak memiliki wakil,  tapi kualitas dan esensi perjuangan keperempuanan dapat terwakili oleh anggota DPRD yang berhasil duduk saat ini. Dan penulis sangat yakin bahwa sosok mereka bisa menjadi refresentasi kepentingan perempuan, dengan satu catatan penting dan menarik, yakni vitalisasi peran penting para istri-istri anggota DPRD baik secara individu maupun secara komunitas kelembagaan, agar dapat berperan lebih maksimal, setidaknya bisa menjadi pelaku  “gosip”  (Guide Orang Susah Idaman Pemilih), dengan melakoni peran-peran  sederhana namun cukup strategis dalam rangka membantu suami mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Revitalisasi peran istri,  penulis ingin memandang dari sudut yang cenderung lebih domestik, tidak terkesan mencampuri pekerjaan dan mempengaruhi keputusan suami, tapi penulis ingin mengajak para istri untuk memposisikan dirinya sebagai pemandu suami dari dalam rumah, dengan kehalusan rasa yang dimilikinya mengajak suami untuk mengasah kepekaan, menyentuh nurani agar dapat bekerja lebih tenang, bertindak lebih arif dan mengambil keputusan dengan lebih cermat.

Kalau boleh penulis ibaratkan istri sebagai pintu belakang/pintu dapur (lawang sawai/sebai) yang mengandung filosofi bahwa setiap tamu yang datang dari pintu belakang cenderung bersifat sederhana. Sederhana urusannya, sederhana penampilannya, sederhana bahasanya, dan sederhana pula tujuannya, inilah komunkasi rakyat yang sesungguhnya. Namun bila disimak lebih dalam lagi, ternyata persoalan sederhana itu cukup vital adanya dan vatal akibatnya.   Pembaca bisa bayangkan satu contoh urusan yang paling mendasar misalnya tentang kesulitan hidup sehari-hari, tentang kebutuhan anak-anak sekolah, tentang prahara rumah tangga, dan lain-lain yang justru sering terlupakan, ini terjadi antara perempuan dan perempuan dan semuanya akan lebih nyaman masuk melalui pintu dapur (baca istrri),   Bukan sebaliknya, justru urusan besar dan penting masuknya lewat “pintu belakang” (melalui istri) yang berakibat pada lahirnya kebijakan yang sangat tidak  bijak bagi rakyat yang diwakilinya.

Penulis mencoba menawarkan dan mengikhtiarkan tips sederhana semoga bermanfaat, antara lain:

1. Memadukan sebelum diadukan
Akan ada banyak perkara atau masalah yang datang  kepada para istri – istri dengan berbagai jenis dan kasus. Kenyataan di lapangan menunjukan  bahwa masyarakat kita hari ini belum memungkinkan untuk diajak berfikir proporsional dalam banyak hal. Hampir semua persoalan diajukan kepada wakilnya, mulai dari urusan pribadi sampai kepada urusan umum dan hal semacam ini  berpotensi masuk melalui para istri-istri. Karenanya para istri hendaknya pandai memadukan dan memandang persoalan dari dari berbagai sudut dan implikasi,  sehingga saat diadukan kepada suami bukan lagi menjadi sebuah masalah tapi justru bersifat solusi yang dapat meringankan beban suami dalam bekerja.

2. Filterisasi sebelum dikonsumsi
Mencari rizki adalah kewajiban dan mendapatkan yang halal adalah keharusan (Al-Baqarah: 168).“Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik apa yang terdapat dibumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagi kamu” Istri adalah pintu lapis terakhir dari setiap rizki yang masuk ke dalam  rumah sebelum akhirnya dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga. Suami boleh jadi mendapatkan rizki dari manapun dan dengan cara apapun karena yang ada di dalam benaknya adalah berusaha memenuhi kewajiban dan kewajiban, apalagi dalam bayangannya ada anak dan istri yang menunggu dan mengharapkan jerih payahnya. Namun pentingnya menyaring setiap rizki yang masuk ke dalam rumah menjadi sebuah keniscayaan dan hal itu sangat di butuhkan peran istri untuk malakukannya. Dalam mempertanyakan soal rizki istri boleh sedikit posesif (ingin tau) sekedar mengingatkan suami dengan tujuan dan maksud yang baik, bukan sebaliknya bersikap pasif dan tiba-tiba menjadi kalem dan lugu ketika disugukan banyak uang/materi bahkan mendorong suami untuk mendapatkan  dan mencari lagi, mengusahakan dan mencoba lagi tanpa memperdulikan sumber dan cara perolehannya.

Kesejahteraan para wakil rakyat telah diperhitungkan dengan layak dan wajar dan telah disesuaikan dengan status dan keduduannya dan setimpal pula dengan tugas dan tanggungjawabnya, karenanya, tidak ada salahnya bila kehidupan ekenomi yang ditonjolkannya  tidak terlalu jauh  meninggalkan rakyat yang diwakilinya.

3. Dipesan sebelum memesan
Apakah istri boleh menitip pesan/nasehat untuk suami?. Siapa lagi yang akan melakukan kalau bukan istri. Saling mentaushiah tentang kebaikan dan kesabaran akan mengecualikan kita dari kerugian (QS-Al-Ashri). Sebelum istri meminta sesuatu kepada suami akan kebutuhan dirinya, kewajiban dia untuk mengingatkan (bukan mengajarkan) tentang tugas dan tanggungjawab yang diembannya. Bagi hemat penulis,  saat ini adalah saat dimana mereka harus rela menurunkan volume kebutuhan dan perhatian suami untuk dirinya, karena tengah menghadapi tanggungjawab yang besar untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat yang diwakilinya. Ada kesan idealis memang, namun itulah kenyataan yang sesugguhnya harus dilakukan apalabila ingin melihat terjadinya perubahan pada kehidupan masyarakat kita saat ini. Bila diilutrasikan kepada transaksi jual beli antara pedagang dan pembeli yang sedang tawar menawar barang, maka hal ini harus putus harga pada jalan tengah yang paling bijksana yakni bila pembeli adalah rakyat maka ia harus diberi kesempatan untuk mendapat barang berkualitas dengan harga yang murah, sedangkan wakil rakyat sebagai penjual hendaknya rela menurunkan harga lebih rendah agar tidak terjadi kesenjangan yang tajam antara penjual dan pembeli.

Akhirnya penulis mengucapkan selamat berjuang dan sukses selalu kepada  para istri-istri wakil rakyat pemilik CCTV (Cantik, Cerdas, Tangguh dan Value/bernilai), gunakan media CCTV-mu untuk memantau, melihat, mendengar dan merasakan penderitaan rakyat, kurangi penggunaannya untuk mengintai hal-hal yang tidak perlu  insyaallah kamu akan selalu mendapat tempat di hati masyarakat, Amin

*Penulis: ibu rumahtangga